PANSUS ANGKET KPK MINTA PENGAMANAN KE POLRI

JAKARTA, SELIDIK.Net—Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menjelaskan tentang kedatangan rombongan DPR yang tergabung dalam pansus hak angket KPK ke Mabes Polri. Menurut Tito, selain untuk bersilaturahim, pansus angket KPK meminta bantuan keamanan. Bantuan keamanan dimaksud adalah terhadap saksi atau narasumber yang dipanggil pansus.

Menurut Tito, pansus hak angket KPK juga meminta pengamanan terhadap anggotanya. “Pengamanan anggota-anggota pansus apabila diperlukan,” ujarnya, saat konferensi pers di kantornya, Rabu, 12 Juli 2017.

Tito berujar pihaknya menyatakan siap memberikan pengamanan. Kedatangan pansus ke Mabes Polri, kata dia, intinya untuk mengharapkan dukungan yang berkaitan dengan tugas kepolisian.

Tito mengatakan pihaknya menghormati dibentuknya pansus hak angket KPK. Ia menilai hak tersebut dimiliki oleh DPR dan dijamin oleh konstitusi. Berkaitan dengan dukungan yang diberikan, ia mengatakan kepolisian akan memastikan tidak terjadi kegaduhan selama pansus berkegiatan dengan pengamanan yang dilakukan.

Ketua pansus hak angket KPK Agun Gunandjar menuturkan dalam pertemuan tertutup dengan kapolri Tito Karnavian dan jajaran kepolian itu, pihaknya menyampaikan bahwa pansus adalah lembaga konstitusional yang diatur dalam undang-undang. Ia berharap tugas penyelidikan panitia angket bisa efektif dan efisien setelah ada dukungan dari kepolisian.

Agun menuturkan pihaknya tidak membawa kepentingan tertentu dalam kunjungan ke Mabes. Namun ingin agar penegakan hukum berjalan sesuai aturan. “Diharapkan bisa membuat semakin baik politik pemberantasan korupsi,” kata dia. ***

KORUPSI, MANTAN PRESIDEN DIVONIS 9,5 TAHUN PENJARA

JAKARTA, SELIDIK.Net—Pengadilan Curitia, pengadilan tingkat pertama di Brazil menjatuhkan hukuman sembilan setengah (9,5) tahun penjara kepada mantan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Rabu (12/7). Lula terbukti bersalah melakukan korupsi, dalam skandal yang terkait dengan perusaan minyak negara, Petrobas.

Namun, Lula masih dapat menarik nafas lega sebab ia dapat mengajukan upaya banding terhadap putusan itu. Hakim yang membacakan putusan mengatakan selama proses hukum berikutnya, pria berusia 71 tahun itu masih diperbolehkan berada di luar tahanan.

Persidangan perdana atas skandal korupsi yang menjerat Lula pertama kali digelar pada Mei lalu. Ia telah berulang kali menyampaikan bantahan dan keberatan atas tuduhan kejahatan tersebut, di mana dikatakan ia telah menerima suap dari perusahaan teknik OAS sebagai imbalan atas bantuannya memenangkan kontrak dengan Petrobas.

Di hadapan hakim, pria kelahiran 27 Oktober 1945 itu telah mengatakan tidak pernah sekalipun menerima suap berupa sebuah apartemen mewah terkait skandal korupsi perusahaan minyak negara itu, Petrobas. Bahkan, ia menilai bahwa kasus kejahatan yang melibatkan dirinya ini adalah sebuah lelucon dan bermotif politik.

Ia juga pernah mengkritik media yang melakukan investigasi terkait skandal Petrobas. Lula menilai banyak kepalsuan dalam berbagai pemberitaan untuk membuat dirinya menjadi seorang terpidana korupsi.

Dalam sebuah pernyataan, pengacara Lula menegaskan kliennya tidak bersalah. Ia akan mengajukan banding sebagai upaya mencari keadilan.

“Selama lebih dari tiga tahun, Lula telah menjalani penyelidikan kasus yang bermotif politik, tidak ada bukti kesalahan yang kredibel terhadapnya didapatkan, sementara bukti yang luar biasa dari ketidaktahuan mereka diabaikan,” tulis pernyataan pengacara Lula, dilansir BBC, Kamis (13/7).

Skandal korupsi di Petrobas dilaporkan membuat Brasil mengalami kerugian hingga mencapai 12,6 miliar dolar AS. Tak hanya Lula, sang istri bernama Marisa Letici juga ikut terseret sebagai tersangka dalam skandal korupsi ini. Bahkan, anak dari pasangan itu juga masuk dalam daftar penyelidikan jaksa.

Kemudian, ada 14 orang lain yang menghadapi tuntutan hukum dalam skandal korupsi Petrobas. Mereka seluruhnya disebut terkait dengan kasus pencucian uang.

Meski dinyatakan bersalah, Lula disebut akan tetap menjadi politikus yang populer di Brasil. Banyak pendukungnya yang diprediksi akan kembali menggelar unjuk rasa memprotes keputusan tersebut, seperti pada persidangan pertama.

Lula menjadi pemimpin pertama di Brasil yang berasal dari partai sayap kiri setelah setengah abad lamanya. Sepanjang masa jabatannya selama delapan tahun sebagai presiden, ia begitu populer oleh masyarakat di negara itu.***